Free Netter

Tuesday, Mar 16th

Last update05:55:39 PM GMT

Headlines
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
You are here News Pelajar Indonesia Jangan Larut Dalam Kebebasan Yang Kebablasan

Pelajar Indonesia Jangan Larut Dalam Kebebasan Yang Kebablasan

E-mail Print PDF

Anak muda pada umumnya sangat identik dengan kehidupan yang hura-hura, sebagian lagi menganggap masa remaja adalah masa yang penuh kebebasan dan kesenangan yang sesuka hati. Setiap orang tentu punya kebebasan untuk mengekspresikan hidupnya, boleh mencari hiburan dan pergaulan sesuai keinginan hatinya. Berdasarkan usia sekolah, para remaja rata-rata duduk di bangku sekolah SMP dan SMA, tempat dimana mereka menimba ilmu dan pengetahuan. Berbagai aspek pendidikan seperti etika, moralitas dan keluhurun budi pun mereka terima untuk melengkapi bekal mereka kelak.
Sekolah sebagai lingkungan kedua setelah lingkungan keluarga memegang peranan yang penting dalam membina, mendidik, membimbing dan mengontrol para siswanya selama dalam jam sekolah. Setiap sekolah berharap dan ingin para peserta didiknya dapat menjadi generasi-generasi yang berkualitas, namun terkadang pengaruh lingkungan pergaulan jauh melebihi lingkungan keluarga dan sekolah.
Naluri alamiah remaja adalah mencari kesenangan dan hiburan, berusaha memenuhi segala apa yang diinginkannya, dan cenderung tidak mau mengalah terhadap pendiriannya. Memang tidak semua remaja seperti itu semua, tapi secara umum dapat digambarkan seperti tadi. Dari segi perkembangan jiwa, para remaja mulai mengenal pubertas atau masa-masa ketika mulai menyukai lawan jenisnya. Kata orang she mereka mulai mengenal cinta monyet, maksud disini bukan berarti para remaja mencintai monyet lho……., tapi mereka mulai jatuh cinta ama teman bermainnya, atau teman sekolahnya.
Cinta adalah anugrah dan karunia Illahi yang patut disukuri oleh kita semua, termasuk para remaja punya hak untuk itu, jadi mencintai lawan jenis hal yang wajar dialami oleh manusia yang normal. Di sekolah mungkin mereka terlibat asmara dengan teman sekolahnya, menjadikan hari-hari di sekolah terasa indah dan berseri. Satu jam saja tak bertemu dengan si “dia”, perasaan hati terasa selalu gelisah dan terbayang-bayang di pelupuk mata. Pada masa-masa ini, remaja perlu banyak di dampingi dan diarahkan oleh keluarganya. Sebagaimana kita ketahui bahwa usia mereka yang sangat belia dan minim pengalaman hidup, sangat rentan dengan berbagai resiko negatif jika dibiarkan tanpa bimbingan yang arif dan mengena.
Cobalah ingat-ingat kembali berbagai peristiwa yang menghebohkan di sekitar kita, baik itu melalui media cetak, elektronik dan internet yang memberitakan tindakan asusila para remaja kita. Sebagai ilustrasi di sebuah SMA Negeri di Arjawinangun, begitu banyak kasus-kasus pelajar yang drop-out hanya gara-gara prilaku pelajar itu sendiri, bergaul di luar batas yang menyebabkan dia hamil. Kejadian tersebut menjadi tamparan keras keluarganya dan paling parah adalah dia telah menghilangkan masa depan cerahnya hanya dengan “suatu kenikmatan” sesaat !. Sebut saja siswi berinisial “Fit” ini tergolong pelajar yang kalem, sederhana, fleksibel dan low profile waktu di SMP nya, menginjak SMA tindak-tanduknya berubah 180 derajat. Kehidupannya sepertinya hanya dipenuhi dengan lambaian hura-hura saja, kebebasan pergaulan didewakan dan kehidupan rumah yang penuh atmosphere religius dan kesantunan dianggapny “CUPU”. Sampai akhirnya terjadi peristiwa yang menampar keras keluarga besarnya, hamil 6 bulan oleh teman sekelasnya.
Peristiwa atau ilustrasi diatas sebenarnya buanyak banget di berbagai sekolah di tanah air, entah sudah menjadi trend setter atau budaya bangsa kita yang baru. Dan ujung-ujungnya kalau terjadi kejadian seperti ini adalah dikawinkan secara dini, suka atau tidak tapi inilah “win win solution” yang ditempuh bangsa kita.
Begitu banyak faktor yang mempengaruhi prilaku dan gaya hidup pelajar zaman sekarang, walau seketat apapun di rumah kalau tidak ada komunikasi yang interaktif dengan orang tuanya, maka remaja dapat menyalurkan rasa keingintahuannya dari pergaulan dan sumber lainnya. Dunia maya atau “cyber space” juga turut memberi andil besar mencekoki pikiran remaja, terutama dalam hal pornografi. Silahkan saja kita lihat di sudut-sudut warnet yang ada di dekat kita, kebanyakan para remaja mengakses informasi yang tidak jauh-jauh amat dengan kata-kata bugil, wanita seksi, video mesum, video cabul, cerita seks, ngentot, selingkuh, vulgar, wanita cantik, porno, adegan mesum, adegan porno, siswi cantik, remaja ngentot, smp mesum, sma mesum dan seabreg kata pencarian porno lainnya.
Sunguh memprihatinkan kalau keberadaan akses internet hanya dihabiskan dengan informasi-informasi seperti itu. Tapi tak dapat dipungkiri sebagian besar remaja walau sejumlah warnet mengklaim memblok hal-hal yang berbau porno, tetap saja tanpa pengawasan yang maksimal para remaja akan melakukan aksi pencariannya. Ibarat sebuah peruntungan kalau memang ada peluang sekecil lubang jarumpun, dengan semangat ’45 dan rasa penasaran yang besar mereka akan mencoba dan mencoba.
Kalau cuman melihat doang mungkin tidak terjadi efek yang fatal, tapi lain ceritanya kalau mempraktekkan dalam kehidupan nyatanya. Solusi yang terbaik mengantisipasi yang bisa ditawarkan adalah bangun komunikasi yang interaktif antara remaja dan orang tuanya, berikan pendidikan seks yang sesui dengan usianya, intensifkan pendidikan agama, berikan aktifitas yang positif pada para remaja dan kontrol dengan siapa mereka bergaul. Ingat tidak ada maling yang lebih bodoh dari korbannya, mari selamatkan masa depan remaja kita untuk menghantarkan mereka ke cita-cita sesungguhnya.

Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy