Free Netter

Saturday, Mar 20th

Last update05:55:39 PM GMT

Headlines
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
You are here News Ketika Perasaan Cinta Berlabuh Di Hati Remaja

Ketika Perasaan Cinta Berlabuh Di Hati Remaja

E-mail Print PDF

Sejuta serasa menggelayuti hati remaja, dunia dipenuhi keindahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, hari-hari berlalu begitu cepat menghanyutkan segenap goresan kisah romantis dua pasang hati yang lagi dilanda asmara. Begitulah kira-kira gambaran hati remaja yang kebetulan kedatangan dewi amor, sudah tidak asing lagi bagi para remaja sekarang yang duduk di SMP apalagi yang sudah SMA (pasti sudah lihai).
Sebagai manusia normal tentu saja setiap insan pasti akan mengecap dawai-dawai asmara berdenting di hatinya, tidak terkecuali para remaja yang sedang beranjak dewasa, mereka mulai mengenal perasaan ini terhadap lawan jenisnya. Bak kuncup-kuncup bunga yang baru bermekaran menanti datangnya kumbang jantan untuk menyambanginya, membawa warna baru dalam lembaran hidupnya, bahkan remaja zaman sekarang jauh lebih matang dalam soal ginian dibanding remaja-remaja tempo doloe. Wajar saja karena remaja sekarang punya lebih banyak akses untuk memanjakan dirinya dalam ranah asmara, sebut saja media elektronik yang banyak menyuguhkan sinetron-sinetron bertajuk asmara remaja, media komunikasi yang begitu mudah dimiliki para remaja, majalah-majalah gaul yang banyak menginspirasi perjalanan kisah asmara remaja, dan tidak ketinggalan dunia internet pun memegang porsi yang cukup besar untuk “menyempurnakan” kamus percintaan remaja sekarang. Sumber-sumber itu secara langsung atau tidak, menyuburkan hati-hati polos (cie....cie....polos niyee !) menyelami masa-masa pubertas.
Perasaan memiliki dan dimiliki adalah naluri setiap insan, engga tua engga muda, engga belia atau udah uzur (seperti gue....), wajar dan harus diperjuangkan. Oleh karena itu kita harus mensyukuri karunia Tuhan ini dengan menempatkannya sebaik-baiknya, dalam arti memperlakukan perasaan ini dengan tetap mempertimbangkan norma dan etika yang seharusnya, jangan kemudian mengumbar perasaan cinta pada satu sisi “nafsu” belaka. Biarkan perasaan ini mengalir memenuhi relung hati agar hati kita bergairah menapaki setiap fase kehidupan....., namun norma agama dan norma sosial tetap menjadi pengekangnya.

Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy